Brand PR: Cinta Dendam TKW

Seorang pengusaha restoran ayam yang terkenal enak dan memiliki banyak cabang di kota – kota besar di Indonesia, bahkan di singapura, terpaksa harus menutup restorannya di bandung, sejak awal pemilik akan membuka restoran di bandung, sebetulnya sudah banyak yang memperingatkan untuk tidak buka cabang di kota yang menjadi destinasi favorit orang Malaysia itu, kecuali, kata pemberi saran, restorannya menggunakan nama lain

Berhubung sarannya setengah tidak masuk akal, dan memang belum memiliki bukti tersendiri, pengusaha restoran pun tetap mencoba membuka cabang di kota Mojang Priangan itu, Alhasil, seperti kata beberapa orang, resto tersebut tutup karena tidak laku, pemberi rekomendasi lalu berujar, “Makanya, jangan pakai nama “Hayam Wuruk.”

Ini mitos lama cinta dendam antara Jawa dan Pasundan, antara Majapahit dan Pajajaran, Dianggap mitos, karena memang basisnya sejarah lisan soal dendam dan cinta itu, Apalagi sejarah memang tidak menyebut bahwa ini akan menjadi turun – menurun, sesungguhnya, itu bukan mitos, dalam kajian neuropsychology, setiap interaksi yang terjadi, baik dalam bentuk kegiatan sosial, budaya, ataupun sekedar kebiasaan nongkrong, akan terekam ke dalam DNA, itu akan tertanam menjadi sebuah karakter, termasuk dalam perilaku suka dan tidak suka, atau kadang muncul dalam komentar keseharian. “Kok gue ga suka dengan kata – kata itu ya?” atau “Nggak tau, kok bisa suka banget sih.”

Itu pendaman dendam dan cinta yang merasuk ke dalam bawah sadar, ada tapi tiada, karena letaknya jauh di bawah kesadaran konsumen, Maka, perlu untuk tahu lebih dalam apa yang tersimpan di balik kesadaran konsumen, dan tentu bukan hanya persoalan dendam, tapi juga cinta – cinta terpendam.

Kita agak susah menerjemahkan ketika kita (ternyata) mendeskripsikan wanita cantik dengan kulit putih, bersih, hidung mancung, dan bibir merekah, kalau di gali lebih dalam, adakah rasionalitas kita memilih kulit putih? Kenapa bukan kulit cokelat, sawo matang, atau kulit hitam legam?

Bila anda seorang perempuan, bisakah anda menerjemahkan, kenapa mendadak begitu nyaman bila di sekeliling anda banyak sekali barang yang bisa menjadi cermin, bahkan sekalipun barang tersebut bukan cermin

Cinta dan dendam bawah sadar tentu diciptakan, dan yang harus digarisbawahi, itu menurun sekian ratus tahun melalui DNA antargenerasi, Dan sudah pasti, itu berguna bagi kita

Baiklah, kita kesampingkan dulu bagaimana menggali cinta dan dendam yang sudah terpendam ratusan tahun, biar etnografer dan psikolog yang bertugas untuk itu, sekarang, mending kita balik logikanya, kenapa kita tidak menanam cinta untuk diturunkan ratusan tahun kemudian

Bila Amerika, Inggris, dan Negara – Negara barat telah menanamkan rasa cinta kepada penduduk dunia mengenai kehebatan Negara mereka lewat film –film yang sudah lebih dari seratus tahun, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama? Memang kita belum memiliki industri film sehebat Amerika, tapi kan kita memiliki ribuan tenaga kerja wanita di Negara – Negara kaya

Lebih dahsyat dari sekedar film, ribuan TKW itu menyentuh langsung anak – anak yang tengah berada pada masa golden age Mereka mengasuh, memberi makan, memandikan, dan bahkan mendongengkan cerita sebelum tidur, bukankan itu masa – masa penting saat sang anak menerima informasi apa pun?

TKW bisa membisikan cinta ataupun dendam pada anak – anak bayi asuhannya, tergantung dengan situasi dasar TKW itu sendiri, Nah, ketimbang membiarkan dendam yang mendarat dalam benak anak – anak asuhan TKW, kenapa bukan sebaliknya?

Kita minta TKW menanamkan cinta terhadap Indonesia, kalau film – film Amerika hanya bisa menghipnotis rakyat Indonesia dalam waktu dua jam, tenaga – tenaga kerja Indonesia bisa bertahun – tahun

Caranya? Mudah saja, kita buat TKW mencintai Indonesia terlebih dahulu, kita sadar bahwa kita tidak bisa menyediakan lapangan kerja yang layak, hingga TKW – TKW tersebut harus mencari penghidupan di luar negeri, Nah, dengan kesadaran tersebut, ada baiknya kita buat semacam apologize program. Kita minta maaf

Bukan dengan minta maaf melalui spanduk ataupun billboard, tapi wujudkan dalam bentuk layanan prima untuk seluruh kemudahan mereka, saat mengurus izin, berangkat ke luar negeri, selama di negeri tujuan, dan saat pulang ke Indonesia, wujudkan semua dengan tulus, hilangkan semua aparat yang menghambat ketulusan itu

Bila hal tersebut bisa dilakukan, pasti akan dengan sendirinya mereka bukan sekedar pulang membawa devisa, tapi juga menancapkan pesan dalam ribuan anak bangsa lain agar menjadi cinta Indonesia, kenapa? Karena Indonesia telah memperlakukan TKW – TKW tersebut dengan baik

Sebaliknya, bila kita perlakukan mereka dengan tidak layak, dendam terhadap Indonesia-lah yang dibawa, sudah tidak diberi lapangan pekerjaan, diperalat pula, bila itu yang terjadi sekarang, bisa kita tebak, apa yang ditanamkan dalam benak anak – anak majikan mereka di luar negeri selama bertahun – tahun